14 August 2010

Cukup Sekali.

TAJUK: Cukup Sekali
PENULIS: Jamilah Mohd Norddin

Junaidi membuka jendela kamar. Dibiarkan angin desa dinihari  menyegarkan tubuh kurusnya. Dia baru usai menyudahkan manuskrip untuk novel terbarunya, “Takdir Untuk Nasuha”. Sebuah terjemahan perasaan sendiri yang mahu dikongsi bersama khlayak. Sebuah kisah kehidupan yang mungkin biasa, namun punya makna bagi yang mencarinya. Pencarian makna sihat oleh seorang Junaidi yang hanya menyedari mahalnya sebuah kesihatan setelah bebas daripada sakit yang panjang.

Alhamdulillah. Segala-galanya ada urusan yang ditentukan oleh Allah.

Look around yourself,
Can’t you see this wonder
Spread in front of you
The cloud is floating by
The sky is clear and blue
Planets in the orbits
The moon and the sun
Such perfect harmony

Let’s start questioning ourselves
Isn't this proof enough for us ?
Or are we so blind
To push it all aside
No, we just have to

Chorus:
Open our eyes our hearts our minds
If we just look prior we see the signs
We can't keep hiding from the truth
Let it take us by surprise
Take us in the best way ( Allah )
Guide us every single day ( Allah )
Keep us close to You
Until the end of time

Look inside yourself
Such perfect order
Hiding in your cells
Running in your veins
What about anger, love and pain
And all the things you’re feeling
Can you touch them with your hand ?
So are they really there ?

Let’s start questioning ourselves
Isn't this proof enough for us ?
Or are we so blind
To push it all aside
No, we just have to

Chorus:
Open our eyes our hearts our minds
If we just look prior we see the signs
We can't keep hiding from the truth
Let it take us by surprise
Take us in the best way ( Allah )
Guide us every single day ( Allah )
Keep us close to You
Until the end of time

When our babies born
So helpless and weak
And you’re watching it growing
So why deny what’s in front of your eyes
The biggest miracle of life
We just have to

Chorus:
Open our eyes our hearts our minds
If we just look prior we see the signs
We can't keep hiding from the truth
Let it take us by surprise
Take us in the best way ( Allah )
Guide us every single day ( Allah )
Keep us close to You
Until the end of time

Chorus:
Open our eyes our hearts our minds
If we just look prior we see the signs
We can't keep hiding from the truth
Let it take us by surprise
Take us in the best way ( Allah )
Guide us every single day ( Allah )
Keep us close to You
Until the end of time

Allah you created everything, we belong to you
Ya Rabb we raise our hands forever we thank you

Lagu ‘open your eyes’ dendangan Maher Zain mengisi cuping telinga Junaidi sedari tadi. Laptop terpasang di meja belajar, setia mengulang-ulang baris demi baris lirik yang terungkap banyak makna. Lagu yang pertama kali diperdengarkan Suhaili, sahabat baiknya ketika terbaring di Katil di Hospital Tawakkal Kuala Lumpur.

“Suhaili, terima kasih meminjamkan aku senyumanmu. Segala yang beri untuk aku tidak mampu dibalas walaupun dengan sebutir mutiara atau permata. Kau berikan aku senyuman paling manis saat aku hanya mampu memandang kamu tanpa rasa. Kau berdiri di sebelahku saat aku hanya melihat dengan anak mata tanpa membalas kata-katamu. Kamu berbicara tentang ukhuwah dan janji persahabatan sejati yang kita lafazkan saat aku seakan putus asa. Kamu sahabat yang mendahulukan sahabatnya dalam apa jua keadaan. Kamu sangat baik, Suhaili. Aku malu dengan kebaikanmu.”

Dalam persahabatan yang hanya terbina atas nama Allah itu, Junaidi hanya mampu melafaz syukur tanpa batas dipertemukan Suhaili yang merupakan insan pertama dikenalinya ketika minggu taaruf Universiti Islam Antarabangsa Malaysia tiga tahun lalu. Sahabat yang dilihat sangat peramah, sangat mengambil berat dan menjaga hati sahabatnya.

***

Angin menderu. Pagi yang disertai kokokan ayam berselang-selang antara satu sama lain menghambat sayu di hati Junaidi.

Lagu berukar lagu kepada ‘muhasabah cinta: Edcoustic’ . Sebuah lagu yang setiap kali mendengarnya akan menderu air mata keluar daripada tubir matanya. Sebuah lagu yang mengingatkan Junaidi kepentingan menghargai sebuah kesihatan.

Ya, memang sekarang Junaidi tahu harga kesihatan itu setelah melalui kembara sakit yang panjang, namun mendengar lagu nan satu itu pasti mengundang sendu.

Kalaupun dapat diulang masa, Junaidi tidak mahu kesakitan itu berulang. Cukuplah sekali melaluinya. Hanya sekali merasa makan tanpa rasa, minum tanpa hilang dahaga, malam dan siang terbaring sahaja. Melihat ummi dan abi bersengkang mata, menyapu air mata melihat anaknya yang seperti mayat jaga.

Allah, cukuplah sekali mereka melihat anak mereka itu begitu.

Benar mahalnya sebuah kesihatan tidak mampu dibeli walaupun berkepuk wang ringgit dimiliki. Biarlah hidup sesederhana mungkin asal sahaja punya kesihatan yang baik untuk merapatkan diri kepada Allah.

Wahai pemilik nyawaku,
Betapa lemah diriku ini
Berat ujian darimu
Kupasrahkan semua pada-Mu.

Tuhan
Baru kusedar
Indah nikmat sihat itu
Tak pandai aku bersyukur
Kini ku harapkan cintamu

Kata-kata cinta terucap indah
Mengalir berzikir di kidung doaku
Sakit yang kurasa
Biar jadi penawar dosaku

Butir-butir cinta air mataku
Teringat semua yang kau beri untukku
Aku khilaf dan salah selama ini
Ya Ilahi
Muhasabah cintaku....

Tuhan
Kuatkan aku
Lindungiku dari putus asa
Jika ku harus mati
Pertemukan aku denganmu

“Allah, cukuplah sekali dengan kesakitan itu. Aku sedar harga sebuah kesihatan hanya setelah kau ambil sebentar pinjaman itu. Terima kasih Ya Allah, masih pinjamkan nyawa buatku meneruskan kehidupan.” 

Junaidi meraup wajah usai mendengar muhasabah cintaku yang sangat menyentuh kalbu itu. Dia menutup lappy dan menuju ke halaman rumah melihat bunga-bunga mawar ummi yang menguntum harum.

(1437)
14-08-2010@qamar cinta jamilah.
Disunting: 2 Jun 2012

No comments: